Aspire to Inspire till Expire

Image

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pembunuhan Lina Marlina, Istri Mantan Pejabat BI

Lirsyah Rachman:”Lina Makin Romantis di Hari-Hari Terakhir Hidupnya”

Lina Marlina sosok wanita yang funky dan dikenal hangat bagi keluarganya, kamis dinihari dibunuh oleh orang tak dikenal.Berakhir setragis itulah hidupnya, sampai kini kematiannya masih menjadi misteri bagi keluarga yang ditinggalkannya. Lirsyah Rachman (55) dalam keadaan setengah tertidur ketika sekitar pukul 02.00 WIB, samar-samar mendengar suara gaduh. Mengira kedua anaknya Irsan atau Fita yang membuat gaduh, ia mendiamkan saja. Namun tak lama berselang, dari suara gaduh itu tiba-tiba bayangan manusia memasuki kamar tidur mereka. Tanpa ba-bi-bu bayangan itu langsung menghujam senjata tajam ke kepala Lina. “Saya mengira saya sedang bermimpi. Hal lain yang terpikir itu jin,” cerita Lirsyah terbata-bata.

Lirsyah yang mulai sadar mengetahui istrinya tengah dihabisi mencoba bangun. Ia berusaha melawan dengan menahan hujaman senjata tajam itu. Sabetan senjata mengenai kepala dan lengannya. Namun ia menahan sakit dan terus mencoba melawan. Melihat sasarannya bereaksi melawan, pelaku berusaha kabur. Suasana yang begitu gelap lantaran lampu kamar tidur dipadamkan, juga kondisi Lirsyah sendiri, membuat pelaku leluasa melarikan diri. Setelah itu dengan tangan berlumur darah Lirsyah berlari ke kamar anak-anaknya, membangunkan mereka lalu menelepon saudaranya. Tapi karena gemetar ia tak mampu melakukannya. Apalagi teriakan Irsan dan Fita yang panik membuatnya bergegas kembali ke kamarnya. Ketika gelap ia tahu apa yang dialami istrinya, Begitu lampu menyala tampak sang istri bersimbah darah. Tanpa pikir panjang mereka bertiga melarikannya ke Rumah Sakit Internasional Bintaro. Namun sayang, sesampai di Rumah sakit, istri dan mama tercinta itu mengehembuskan nafas terakhirnya.

OLEH-OLEH GELAS KRISTAL

Ketiga anak mereka Marchia Penny (26), Fitarina Yuliana (25) dan Muhammad Irsan (24) sangat syok dengan kepergian sang mama yang begitu cepat. Sang suami, mantan pejabat Bank Indonesia Lirsyah Rachman (55) pun demikian. Selain kepala dan tangannya terkena sabetan senjata tajam, istrinya meninggalkannya secara tragis. Lirsyah lalu menceritakan suasa menjelang terjadinya tradegi yang bakal menimpa istrinya. Sore menjelang malam itu rumahnya seperti biasanya hanya ada ia sendiri, sang istri, kedua anaknya Irsan dan Fita serta seorang pembantu. Putri pertamanya Marchia tinggal bersama suaminya tak jauh dari rumahnya. Malamnya Marchia dan suaminya Irfan datang. Irfan yang baru pulang dari menunaikan ibadah haji membawakan oleh-oleh kesukaan mamanya berupa gelas-gelas kristal. Suasana hangat pun terasa. Lina lalu asyik mengagumi gelas kristal barunya, hingga Irfan dan Marchia pamit pulang, Lina masih asyik dengan gelasnya bahkan langsung menatanya di lantai bawah. Setelah itu Lina bergegas ke lantai dua untuk menyirami tanaman. Itu aktivitas yang selalu dilakukannya setiap malam. “Biasanya Mama melakukannya sebelum tidur”,terang Irsan.

Lina memang dikenal sebagai pehobi tanaman. Di balkon lantai dua rumahnya dipenuhi tanaman-tanaman kesukaanya.”Saking cintanya terhadap tanaman, Mama kerap mengajak tanaman-tanaman itu berbincang-bincang sembari menyiraminya”. Masih kental dalam ingatan Irsan, sebelum masuk ke kamar mamanya menghampiri dirinya yang tengah asyik menonton film Badai Pasti Berlalu.”Kamu kelihatannya letih, harus minum obat agar besok segar kembali,” pesan sang mama. Ia tak menyangka itu akan menjadi perhatian mamanya yang terakhir. Sedangkan Lirsyah sendiri, malam itu men-scan foto-foto istrinya. Entah mengapa, katanya serasa ada dorongan kuat untuk menyimpan foto-foto istri dan keluarganya dalam bentuk soft copy. Hampir dua album yang berisi foto-foto Lina di-scan-nya malam itu.

LINA TIDAK PUNYA MUSUH

Lina kini sudah pergi. Tanah kuburannya pun masih basah. Namun keluarga masih menyimpan banyak pertanyaan. Mengapa, mengapa dan mengapa…. Mereka tak tahu latar belakang pembunuhan ini. Yang jelas, setelah kejadian itu dua buah HP, uang sekitar Rp200.000 serta sebuah handycam raib.Mungkinkah perampokan murni? Mengapa pelaku langsung membunuh, tak sekedar mengancam saja lalu mengambil barang yang ada? Sungguh masih misteri. Ada dendam di balik itu? Kemungkinan itu pun cukup kecil. Menurut Lirsyah istrinya adalah sosok yang ramah dan supel, karena itu banyak teman. Mulai dari para pedagang didaerah rumahnya dan Mangga dua hingga ibu-ibu pengajian. Dalam kesehariannya pun Lina hanya beraktivitas laiknya ibu-ibu rumah tangga. Kecuali jika jenuh di rumah, Lina pergi ke mal dan kafe bersama teman-teman yang lain. Beberapa waktu sebelumnya para kerabat sudah merasakan hal aneh pada Lina. Seperti diceritakan Lirsyah, saat Lina menghadiri perayaan ulang tahun kebarat sekaligus teman satu gengnya, selepas menyanyikan satu buah lagu ia tiba-tiba berkomentar:”Mulai tahun depan saya tidak akan mengikuti pesta ulang tahun teman-teman lagi”. Tak ada yang mengira atau bertanya-tanya bila perkataan itu merupakan isyarat dan salam perpisahan darinya. Selain itu, hari-hari sebelum meninggal, Lina tampak sering bertutur halus. Hal itu dirasakan oleh kerabat-kerabat dekatnya. Ia yang terkenal periang mendadak jadi lembut.

Firasat lainnya dirasakan anak-anak Lina enam bulan sebelumnya. Ketika itu keponakan Lina meninggal dunia akibat penyakit lupus. Mamanya sangat sedih. Saat mereka melewati TPU Tanah Kusir, tempat keponakan dimakamkan dia berkata. “Kalau orang meninggal itu harus sering dikunjungi kuburannya, lalu foto-fotonya tidak boleh disimpan, tetapi harus tetap terpajang di rumah”. Hal lain pun juga mereka rasakan. Irsan selalu ingin memeluk mamanya tatkala tidur. “Entah mengapa rasanya Mama pengen aku peluk terus”, kata Irsan. Begitu pula dengan sang ayah. Biasanya ia jarang tidur berdua sebab Lina senang tidur menemani anak-anaknya.”Akhir-akhir ini saya selalu ingin tidur bersama dia, dan saya selalu ingin dekat dengannya” tambah Lirsyah sedih. Beberapa hari sebelum meninggal pun Lina banyak membaca buku-buku islami. Lina senang membaca buku tentang pertanyaan-pertanyaan para malaikat ketika orang meninggal.”Buku itu dibaca Mama berulang-ulang, malah kepada anak-anaknya ia menerangkan mengenai siksaan kubur”, cerita Irsan. Semua itu seolah disiapkannya untuk meninggalkan keluarga untuk selamanya.

TITIP ANAK-ANAK

¬†Tak ada pesan khusus kepada sang suami tercinta sebelum Lina meninggal. Hanya saja, akhir-akhir ini Lirsyah dan Lina kerap berbincang-bincang mengenai masa depan keluarga mereka, terutama pada malam hari ketika anak-anak sudah tidur. Bahkan Lisyah sendiri pernah bilang:”Semakin hari kita sudah makin berumur, pasti di antara kita akan menemui Sang Khalik terlebih dahulu. Kita harus siap.” Lirsyah ingat ketika itu istrinya mengiyakan saja. Tak ada nampak beban dimukanya. Malah dengan enteng ia berujar. “Kalau Mama pergi duluan, Mama titip anak-anak ya Pa.” Menceritakan itu ia tak dapat menahan air matanya. Pasalnya ucapan istrinya dilontarkan beberapa jam sebelum meninggal. Apalagi selama ini istrinyalah yang mengurus keperluan keluarga. Mulai dari manajemen keuangan, mengurus keperluan anak, bayar listrik, menata rumah hingga belanja keperluan sehari-hari. Walau pun ada pembantu, namun Lina tak segan-segan mengerjakan sendiri pekerjaan rumah. “Mama orangnya aktif, tidak diluyar, tidak di rumah.Kalau Mama sudah tidak ada siapa yang mengurus semuanya…” Lirih suara Lirsyah seakan merasakan beban berat menyambut hari esok tanpa istrinya.

FUNKY & BERTANGGUNG JAWAB

Tanah pekuburan yang menutupi jasad istrinya masih basah. Dan bagi Lirsyah kehidupannya bersama sang istri pun masih segar dalam ingatannya. Perkenalan Lirsyah dan Lina. Dimulai pada tahun 1976. Saat itu ia kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung) Jurusan Arsitektur.Sedangkan Lina kuliah di Akademi Sekretaris. Kebetulan, mereka sama-sama gaul dan memiliki kesamaan hobi, yakni pergi ke pesta.”Kami menyukai pesta waktu masih kuliah”, tutur Lirsyah sambil tersenyum. Kala itu setiap ada undangan pesta, Lirsyah langsung menyiapkan pakaian nomor satu. Maklum pesta merupakan ajang bagi anak-anak muda yang gaul. Nah, pada sebuah pesta mata Lirsyah tertambat pada sosok gadis manis di antara kerumunan orang.”Saya merasa dia jodoh saya” kenangnya, matanya menerawang jauh. Ternyata gayung bersambut. Lina pun merasakan hal yang sama saat matanya bertubuk pandang pemuda di seberangnya. Seakan chemistry mengalir di antara mereka. Setelah perkenalan pertama, berlanjut dengan beberapa pertemuan berikutnya yang akhirnya mengikat hati keduanya. Yang membuat Lirsyah kagum pada Lina kala itu adalah, meskipun Lina suka pesta muda-mudi, tapi ia buka orang yang sok gengsian. Lina tidak malu jika diajak makan dipinggir jalan. Apalagi sebagai mahasiswa, Lirsyah tidak punya banyak uang untuk mentraktir makan Lina ke tempat-tempat mahal. “Dia tidak gengsi saya ajak makan di pinggir jalan. Bagi saya artinya, ia bisa diajak susah juga senang”, kenang Lirsyah. Sifat Lina yang seperti itu masih dirasakan Lirsyah hingga akhir hayatnya.

Walau istrinya suka jalan ke mal dan kafe bersama teman-temannya, ia tetap tidak melupakan tugasnya sebagai seorang ibu.”Teman-teman pernah bilang istri saya suka jalan-jalan. Saya katakan yang penting dia punya tanggung jawab terhadap kewajibannya”, jelas Lirsyah. Karena itu ketiga anak mereka menjuluki ibu mereka Mama Funky. Marchia, anak pertamanya, ketika menganggur kerap diajak jalan-jalan bersama teman-temannya.”Saja diajak ke kafe dan jalan-jalan bersama teman-teman Mama”, cerita Marchia. Sifat supel itu diakuinya ditanamkan kepada ketiga anaknya agar mereka mempunyai banyak teman.

SEMAKIN TUA SEMAKIN ROMANTIS

Kehangatan Lina tak hanya dirasakan saat awal-awal pacaran saja. Lina memang terkenal romantis di mata Lirsyah. Semakin bertambah umur Lirsyah merasa kemesraan itu semakin tumbuh. Walau ia sibuk dengan urusan kantor, tapi Lina tetap memberikan motivasi kepadanya. Karena itulah kata Lirsyah, ia memilih pensiun dini sebagai pejabat di Bank Indonesia. Pertimbangan pensiun dini diambilnya selain sudah penat dengan rutinitas kantor, ia ingin sering bersama istri tercinta dan anak-anak. “Saya bosan dengan kemacetan Jakarta, makanya saya memilih pensiun dini. Selain itu juga bisa sering berkumpul dengan keluarga”, ujar lelaki asala Sumatera Barat ini.

Pada tahun 2003, Lirsyah memulai masa pensiunnya. Sejak itulah ia bisa menghabiskan waktu sehari-hari bersama keluarga. Pada tahun itu pula sekeluarga bisa menunaikan ibadah haji bersama.”Itu kenangan yang tak mungkin saya lupakan” urai Lirsyah lagi. Baginya masa-masa manis dihari tua itu begitu singkat. Tahun yang mereka lalui masih dalam hitungan Jari, kini istri tercinta sudah dipanggil Allah SWT. Padahal tahun 2008 ini, Lirsyah sekeluarga sudah merencanakan akan melakukan perjalanan ke tempat-tempat bersejarah Islam seperti Mesir dan Turki. “Lina menyukai perjalanan seperti itu” kata Lirsyah. Rencana itu tinggal rencana,sebab Allah sudah memiliki rencana lain bagi istrinya.

Dikutip dari Majalah Kartini,Januari 2008,Penulis: Andes Lukman

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Prinsip Hidup Yang WAJIB Anda Tahu

Bismillahirahmanirahim, setelah seminggu sejak postingan pertama, saya mencoba untuk menulis kembali di hari jumat ini. Memang awalnya akan selalu berat saat harus menuliskan kalimat pertama apabila untuk penulis yang sangat pemula seperti saya, tapi Insha Allah dengan niat yang sama yaitu ingin memberi manfaat kepada orang lain, semoga tulisan berikut ini dapat mengalir dan tidak menggurui ūüôā .

Tema tulisan kali ini adalah mengenai¬†prinsip kehidupan. Hmmm awalnya masih bingung mau angkat tema apa, tapi kebetulan¬†baru dapat¬†“kejadian sepele/Kesalahpahaman” yang membuat terinspirasi dan¬† ingat prinsip hidup ini dan¬†rasanya wajib untuk saya share.¬†Saya¬†beri judul¬†posting ini¬† “Prinsip Hidup Yang WAJIB Anda Tahu”,¬†semoga menggoda dan bikin¬†tertarik untuk¬†baca¬†ya hehe :p . Kalau¬†saya bertanya kepada teman-teman, sudah berapa lama sih hidup di dunia? selama hidup¬†ada tidak yang tidak pernah dapat masalah yang bikin istilah kerennya BETE ? , yakin semua pasti pernah. Nilai Ujian Jelek jadi BETE, Jalanan macet jadi BETE,¬†Pacar Ngambek jadi BETE, dan masih banyak contoh-contoh lainnya yang intinya kita BETE karena¬†menyalahkan kondisi lingkungan yang tidak sesuai¬†dengan keinginan kita.

Pernah dengar Prinsip 90/10 oleh Stephen Covey? Jadi Menurut prinsip ini, CUMA 10% dari kehidupan yang kita alami di luar kehendak kita, selebihnya 90% tergantung dari sikap kita dalam menghadapinya. Jadi kita tidak dapat mengontrol apa yang akan terjadi kepada kita yang CUMA 10% itu.

Kalau tinggal di Jakarta pasti pernah mengalami kemacetan parah, bukan? apalagi saat musim hujan yang hampir dipastikan Jakarta akan dikepung oleh bahaya Genangan ( catat bukan Banjir kalau kata Gubernur, hehe), kalau kondisinya sudah macet, biasanya manusia akan terjebak dalam skenario berikut,

Karena macet yang sangat parah, emosi kita berkendara akan¬†naik yang mungkin disebabkan kita sedang buru-buru misalnya¬†karena ada meeting penting. Saat ada, pengendara motor menyalip, dengan marah yang membara kita mungkin akan meneriakinya dengan mengabsen semua hewan yang ada di Ragunan ūüôā , kalau lagi tidak konsentrasi malah memungkinkan terjadinya kecelakaan dengan pengendara motor yang menyalip tersebut, setelah keadaan makin pabeliut¬†dan kitapun¬†makin tidak bisa kontrol emosi, mungkin akan terjadi perkelahian yang urusannya harus di selesaikan di kantor Polisi. Bukan hanya rugi duit, tetapi juga rugi waktu dan tenaga, kesempatan emas kita menjemput rejeki dengan tampil gemilang saat di meeting pun hilang, yang ada reputasi jelek di kantor yang kita dapatkan.

Kalau kita pelajari skenario di atas, sebenarnya yang jadi penyebabnya siapa/apa ya?

1. Apa karena macet parah yang memang tidak bisa kontrol?

2. Pengemudi Motor yang menyalip?

3. Atau kita sendiri yang tidak bisa mengontrol emosi?

Yakin hampir 100% teman-teman akan jawab pilihan yang ketiga. Ya, kondisi di atas disebabkan oleh diri kita dimana kita tidak bisa kontrol emosi kita.

Coba kalau skenarionya di ubah, dimana saat kondisi macet kita tetap tenang, berpikir positif saat ada pengemudi motor yang menyalip yang mungkin dikarenakan Ia juga sedang terburu-buru, Kecelakaan tidak terjadi dan kita sampai kantor dengan telat hanya 10 Menit dan ternyata meeting belum dimulai karena para bos pun semua terjebak macet dan happy ending nya karena ketenangan dalam mengendalikan diri, presentasi kita diapreasiasi oleh bos dan teman kerja kita.

Ending yang kontras ya? sebenarnya masih banyak lagi masalah-masalah lainnya yang ditimbulkan oleh kita yang tidak bisa mengendalikan emosi kita ( Tadi saat akan mempublish , internet error¬†dan hilanglah semua tulisan ūüė¶ , Langsung dikasih¬†ujian untuk¬†berprilaku positif¬†dengan tidak langsung mematikan laptop dan tidur, hahaha )

Jauh sebelum prinsip 90/10 ini ditemukan, sebenarnya Islam sudah memperingatkan manusia untuk tidak mengikuti hawa nafsu karena akibatnya yang sangat fatal bagi kita manusia.

“Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allan” (QS.Shaad:26)

Allah pun memberikan obat mujarab dengan mewajibkan manusia untuk berpuasa sebagai sarana pelatihan kita untuk melatih hawa nafsu kita.   

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS.Al Baqarah:183)

Jadi sekarang kita sudah mengetahui dan mempelajari prinsip 90/10. Cobalah untuk menerapkan prinsip tersebut pada kehidupan sehari-hari kita dan melatihnya dengan cara berpuasa.Percayalah, bahwa hidup Anda akan jauh menjadi lebih baik lagi. InshaAllah selamat tinggal stress yang berlebihan, masalah, sakit hati dan tentunya kata BETE :p

Semoga bermanfaat,

Wass,

Muhammad Irsan

Posted in Uncategorized | 2 Comments